Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2009

THR ala Kantor Imigrasi

Lebaran masih lama. Bulan puasa pun baru tiba, namun praktik-praktik untuk mencari uang Tunjangan Hari Raya (THR) sudah dilakukan oleh oknum di kantor Imigrasi. Salah satu yang mengalaminya adalah saya.

Meski di papan pengumuman sudah tertulis besar-besar bahwa biaya pengurusan paspor 48 halaman adalah Rp 200rb + biaya TI Rp 55rb (?!) , masih ada juga tambahan ‘resmi’ sebesar Rp 15rb yang katanya untuk biaya sidik jari. Sudah semua? Belum!

Saat saya memperpanjang paspor, biaya yang dikenakan adalah Rp 350rb. Dan biaya tersebut tanpa kwitansi dengan alasan lagi sibuk mengerjakan paspor untuk jamaah haji sehingga tidak sempat mencetaknya.

Untungnya, bulan lalu keponakan saya juga membuat paspor di kantor yang sama. Omong-omong ini terjadi di Kantor Imigrasi Balikpapan, Kalimantan Timur. Keponakan saya hanya membayar Rp 270rb dan ada kwitansinya.

Berbekal kwitansi tersebut, saya ngotot minta kwitansi dengan alasan diminta oleh kantor. Bohong dikit nggak apa-apa kan? Mumpung belum puasa nih, hehehe. Akhirnya oknum petugas Kantor Imigrasi tersebut berjanji akan memberikan kwitansi pada saat saya mengambil paspor yang sudah jadi.

Pada saat yang telah ditentukan, pagi-pagi saya datang ke Kantor Imigrasi untuk mengambil paspor, namun disuruh balik lagi nanti siang karena paspor saya belum ditandatangani oleh Kepala Kantor Imigrasi Balikpapan.

Siangnya, tanpa babibu petugas yang sama langsung memberikan paspor saya. Kemudian dengan suara lirih dia bilang, “Ini deposit yang kemarin,” sembari menyodorkan kwitansi yang terlipat dan di dalamnya ada uang Rp 80rb. Dalam perjalanan pulang saya lihat tanggal kwitansinya, ternyata tertanggal 2 hari lalu, atau pas saat saya dimintai uang Rp 350rb yang katanya biaya pembuatan paspor ya segitu itu.

Ketika isteri saya iseng bertanya pada temannya yang juga bekerja di Kantor Imigrasi yang sama, dengan enteng dia berkata, “ Ya itu biasa lah, untuk dibagi-bagi (uangnya).” O my God, hari gini masih melakukan hal itu, apa kata dunia???

 Tips: Kalau ngurus paspor, harus siap ‘ngotot’ dan bawa bekal kwitansi dari orang yang sudah ngurus paspor duluan.

Advertisements

Read Full Post »

Flu Babi (Lagi)

Flu akibat virus H1N1 ngetrend dengan sebutan Flu Babi. Menurut dr Sonny Nugroho, istilah ini salah kaprah. Penyakit yang konon berasal dari Mexico tersebut ternyata bukan berasal dari babi, melainkan hasil merger dari 4 jenis flu. Salah satunya adalah flu burung. Jadi bukan hanya bank-bank yang harus merger, flu juga.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah tertular virus Flu Babi ini, adalah dengan memperbaiki asupan gizi sehingga ketahanan tubuh semakin meningkat. “Orang yang kurang gizi lebih rentan terhadap infeksi. Dan bagi sebagian besar orang, pola makan yang sehat dan seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh,” jelas Dokter Nick Phin, dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris.

Makanan yang mengandung protein tinggi, bagus untuk menjaga kekebalan tubuh. Tidak perlu harus daging yang nota bene mahal, tapi bisa juga dari tempe. Protein ini bisa membantu pembentukan sel epithelial dalam selaput yang terdapat pada telinga, hidung dan tenggorokan. Fungsinya adalah untuk menjaga tubuh dari serangan virus dari luar.

Tak lupa, lengkapi pola makan Anda dengan sayur dan buah-buahan. Vitamin yang terkandung dalam kedua jenis makanan tersebut berfungsi sebagai antioksidan yang melawan serangan virus. Jika kekebalan tubuh bisa tertembus, sel darah putih yang mendapat giliran bertugas. Vitamin C bisa meningkatkan kinerja sel darah putih tersebut melawan seranga virus Flu Babi.

Seperti sudah saya singgung dalam tulisan sebelumnya, para backpacker rentan tertular karena asupan gizi yang kurang memadai plus stamina yang menurun akibat kurang istirahat. Trus gimana? Tambahkan asupan suplemen makanan untuk menjaga kekebalan tubuh kita.

Read Full Post »

Waspada Flu Babi

Bersin (diambil dari www.guy-sport.com)Beberapa waktu belakangan ini, dunia diributkan dengan adanya virus H1N1 atau yang lebih terkenal dengan nama Flu Babi. Meski berbagai pihak, termasuk Menteri Kesehatan kita, bilang bahwa tidak perlu takut dengan penyakit ini. Pasalnya, meski penyebaran relatif cepat namun tingkat kematian hanya sedikit itu pun karena ada komplikasi dengan penyakit lain yang sudah diidap si pasien sebelumnya.

Namun bagi kita yang suka jalan-jalan, virus Flu Babi ini perlu diwaspadai. Apalagi bagi mereka yang tergolong backpacker. Dengan budget minim tentu saja kita tidak bisa berharap banyak terhadap asupan gizi selama perjalanan. Murah kok minta bergizi, hehehe.

Gizi kurang plus stamina terkuras akibat perjalanan panjang, tak pelak akan meningkatkan risiko kita terpapar virus Flu Babi tersebut. Apalagi kalau melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang sudah terjangkit. Padahal vaksin untuk virus ini belum tersedia.

Tanda-tanda pasien terjangkit virus Flu Babi di antaranya :

  • Demam
  • Sakit tenggorokan dan hidung tersumbat
  • Batuk Mual dan muntah
  • Diare
  • Nafsu makan berkurang

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Mau batalin perjalanan tapi tiket sudah terbeli, sayang kan. Berikut ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko terjangkit virus Flu Babi yang dirangkum dari berbagai sumber dan juga mertua saya sendiri, dr Alex.

  1. Memakai masker untuk mencegah tertular.
  2. Menutup hidung dan mulut dengan tissue saat batuk atau bersin.
  3. Membuang tissue ke tempat sampah setelah digunakan.
  4. Mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama setelah batuk atau bersin.
  5. Menggunakan cairan pembersih antiseptik sebelum tangan mengambil makanan.
  6. Menghindari kontak erat dengan orang yang sakit flu.
  7. Menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut. Virus menular lewat bagian tubuh tersebut.

Oke. Masih mau berangkat?

Read Full Post »

Theemidhi (singaporesight.com)Dari buku dan artikel-artikel tentang travelling, saya tahu bahwa perencanaan yang matang itu sudah 50% dari kesuksesan. Namun pengalaman pahitlah yang menunjukkan bahwa salah perencanaan bisa membawa ‘bencana’. Hal ini saya alami dalam minggu kemarin.

Sekitar bulan Juni saya merencanakan untuk melakukan perjalanan ala backpacker setelah Lebaran. Tujuannya sudah jelas yaitu ke Singapura dan Ho Chi Minh City, Vietnam. Untuk menentukan waktunya saya mulai browsing di internet dan mengumpulkan brosur mengenai kedua tempat tersebut.

Dari situ saya mendapatkan bahwa di bulan Oktober ada satu acara menarik di Singapura, Theemidhi. Di acara ini kita bisa melihat atraksi berjalan di atas bara api yang menakjubkan. Dari satu situs di internet, diinformasikan bahwa acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2009. Wah, pas sekali.

Tanpa melakukan cross-check lebih lanjut, saya langsung booking tiket AirAsia Jakarta – Singapura tanggal 19 Oktober. Kebetulan ada promosi sehingga saya hanya perlu membayar Rp 105.000 sekali jalan termasuk asuransi dan bagasi.

Beberapa waktu kemudian saya mendapat kejutan besar. Situs yang lain menyebutkan bahwa Theemidhi akan dilaksanakan pada 5 Oktober. Deg. Tanpa menunggu lagi saya langsung mengirim email ke Singapore Tourism Board untuk minta konfirmasi. Jawabannya menegaskan info terakhir. Oh my God!!

Tiket yang sudah dibeli tidak bisa lagi diubah dan terpaksa rencana travelling harus terus dijalani, minus Theemidhi tentunya. Hiks, sedih sekali.

Moral : kalau bikin rencana travelling, lakukan cross-check dan (kalau perlu) cross-check lagi. Setuju?

Read Full Post »

Bebas Visa bagi WNI

Mau jalan-jalan ke luar negeri bagi pemegang paspor hijau bergambar burung garuda ternyata tidak mudah. Pasalnya hanya sedikit negara di dunia ini yang mempermudah WNI untuk masuk ke negara mereka. Total dari 200-an negara, hanya sekitar 35 negara aja yang memberlakukan bebas visa. Sisanya? Kita harus susah payah ngajuin visa. Harus ngantri, nunggu berhari-hari tanpa kepastian apakah aplikasi diterima atau ditolak, sudah gitu harganya relatif tinggi lagi.

Padahal mudah sekali untuk masuk ke Indonesia. Cukup ngajuin Visa on Arrival (VoA) di bandara atau pelabuhan kedatangan dengan harga relatif murah. Bahkan teroris dari negeri jiran pun boleh masuk dengan bebas ke Indonesia, hehehe.

Berikut daftar negara bebas Visa bagi WNI :

  • Andorra
  • Bermuda
  • Brunei Darussalam
  • Columbia
  • Comoros
  • Cook Island
  • Cuba
  • Chile
  • Ecuador
  • Fiji
  • Filipina
  • Kep. Galapagos
  • Guam
  • Haiti
  • Hong Kong
  • Kari Bati
  • Lichtenstein
  • Malaysia
  • Morocco
  • Macau
  • Maldives
  • Micronesia
  • Nauru
  • Palau
  • Peru
  • Palestina
  • Kep. Pitcairn
  • St Helene
  • Sri Lanka
  • Samoa
  • Singapura
  • Seychelles
  • Thailand
  • Tuvalu
  • Vietnam (dikutip dari nsuwarno.wordpress.com)

Secara teoritis memang negara-negara di atas bebas Visa, namun ternyata tidak semudah itu. Misalnya untuk negara-negara di Pasifik, tidak ada penerbangan langsung ke sana. Kita harus transit di negara lain, misal di Australia. Atau Andorra. Negara ‘mini’ ini terletak di perbatasan antara Spanyol dan Prancis dan kita harus melakukan perjalanan lewat darat. Jadi minimal kita perlu Visa transit.

Rupanya WNI disamain dengan penduduk negara-negara Afrika dan dianggap berpotensi besar untuk menjadi imigran gelap. Hiks, sedih deh.

Read Full Post »

Pelajaran dari Negeri Gajah Putih

Grand PalacePada awal bulan September 2008, saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan bersama keluarga ke Bangkok, Thailand, selama seminggu. Pada saat itu, kami berangkat total ber-11 (5 dewasa, 5 senior dan 1 anak-anak). Saya dan isteri didapuk menjadi ‘pengelola’ tour, dengan tugas mencari tiket pesawat, menyiapkan akomodasi selama di Bangkok, membuat itinerary (rencana perjalanan) de el el.

Padahal kami tidak punya pengalaman sama sekali. Tapi dengan semangat ‘bonek’ (bondho nekat, bhs Jawa; modal nekat), kami lakuin aja. Hitung-hitung belajar untuk jadi Tour leader hehehe. Apalagi dengan begitu kami bisa gratis biaya tiket pesawat dan akomodasi, lumayan kan.

Tidak hanya pelajaran itu yang kami dapatkan. Yang lain adalah bagaimana bersikap selaku warga negara yang baik di tengah perbedaan dan friksi. Sebelum berangkat, kami dibombardir berita-berita di televisi tentang demonstrasi berdarah di Bangkok yang membuat miris.

Namun karena tiket sudah dibeli, kami putuskan untuk tetap berangkat. Namun setiba di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, kami terbengong-bengong. Mana demonya? Kok semua tenang-tenang aja, bahkan banyak orang Eropa yang datang ke negara ini.

Selama perjalanan menuju hotel, juga tidak terlihat gerombolan pendemo atau pun tentara dan polisi yang berjaga di jalanan. Semua terlihat normal. Di kawasan Chinatown juga tidak terlihat adanya keanehan. Jalanan masih dijubeli warga dan turis.

Menurut pegawai hotel tempat kami menginap, demonstrasi dipusatkan di sebuah lapangan dekat Grand Palace dengan penjagaan ketat. Tapi Grand Palace masih tetap dibuka untuk umum seperti biasa. Kenapa bisa begitu? Kata beberapa warga, hal itu disebabkan rakyat sangat menghormati Raja. Sehingga tidak sampai anarkis meski friksi sangat tajam.

Beberapa hari setelah kami pulang, ada berita bahwa demonstran menduduki bandara dan sampai ada insiden pelemparan granat ke arah demonstran. Tapi setelah demonstran membubarkan diri, bandara sudah bisa dioperasikan kembali keesokan harinya. Pihak pengelola hanya perlu membersihkan sampah yang berserakan, dan tidak ada alat yang rusak atau hilang. Kalau ada demonstrasi di Bandara Cengkareng? Gak janji deh.

Read Full Post »

Negeri Gajah Putih (3)

Read Full Post »

Older Posts »