Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2009

HCMC = Kota Motor

motorMenurut saya, Ho Chi Minh City alias Saigon di Vietnam pantas dijuluki sebagai Kota Motor. Bagaimana tidak? Kota yang memiliki populasi sebanyak kurang lebih 10 juta jiwa tersebut –itu sudah termasuk kakek-nenek, anak balita de el el, punya jumlah motor lebih dari 5 juta buah. Busyeet..! Kalau dirata-rata, tiap dua orang Saigon punya satu motor.

Tak heran kalau jalanan jadi macet karena sepeda motor tumplek blek di saat bersamaan. Akibat lain, kita yang backpacking jadi susah kalau nanya jalan atau tempat. Kemungkinan besar yang kita tanyai di jalan adalah tukang ojek. Apalagi kalau di dekatnya ada sepeda motor yang nangkring.

Kalau tukang ojek yang kita tanyai, pasti jawabannya, “Saya tahu tempatnya. Saya antar?” Dia tidak mau memberi keterangan secara jelas Padahal kita kan maunya jalan kaki yang gratis hehehe. Wong di Saigon sebagian besar tempat wisata ada di Distrik 1 yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Jadi, pintar-pintarnya kita untuk mencari keterangan. Namun harus siap-siap dibikin pusing tujuh keliling karena banyak orang yang tidak paham Bahasa Inggris, sehingga arahan yang diberikan bisa berbeda 1800 antara satu dengan yang lain. Yang satu bilang belok kanan, hanya beberapa meter kemudian, orang lain bilang harus belok kiri. Puusssiinnggg!

Read Full Post »

Ada 2 pilihan bagi kita untuk mendapatkan tempat beristirahat setelah capek berkeliling kota di Ho Chi Minh City (HCMC) alias Saigon, Vietnam. Yang pertama, booking lewat internet yang bisa dilakukan sejak kita berada di tanah air. Ini cara ‘teraman’ sehingga hati pun tenang pergi ke tempat yang sama sekali baru bagi kita.

Namun cara ini memiliki kelemahan, yaitu harga yang kita dapatkan bukanlah yang terbaik dan yang lebih parah adalah jika pilihan kita salah. Bukan rahasia lagi jika foto-foto yang dipampang di internet adalah foto saat hotel tersebut berada di era keemasannya alias jadul (jaman dulu) punya hehehe. Sudah di-booking sebanyak malam kita ada di sana, ternyata yang kita dapatkan adalah kamar yang tidak sesuai dengan bayangan. Mau pindah, tapi sudah dibayar…. Aduuh kaciaaan deh.

Untuk menghindari hal tersebut, ada cara yang kedua, yang penuh petualangan, yaitu datang langsung ke sana dan mencari hotel setiba di tujuan. Takuut?! Gak perlu takut. Banyak sekali hotel, hostel bahkan dormitory yang bisa kita pilih. Semua tergantung budget yang kita miliki. Datang aja ke area backpacker HCMC di Distrik 1, yang meliputi Pham Ngu Lao Street, De Tham Street dan Bui Vien Street. Di ketiga jalan yang berhubungan tersebut, berjajar puluhan tempat penginapan yang bahkan tidak ada di internet. Cara ke area ini baca artikel sebelumnya (Cara Murah ke Kota).

Ketika pergi ke HCMC 21-24 Oktober 2009 lalu, saya pilih tinggal di Hotel 191-193. Nama yang aneh. Itu karena pemiliknya menggunakan alamat hotel tersebut, yaitu 191 -193 De Tham Street. Letaknya di pojokan pertigaan antara De Tham Street dengan Bui Vien Street dan berhadapan dengan An An 2 Hotel (yang ini bisa dilihat di internet).

Hotel ini cukup bersih dengan fasilitas internet gratis, kamar mandi di dalam dan tempat tidur besar yang bisa dipakai berdua. Tidak ada breakfast, tapi di dekat hotel ada depot yang berjualan Pho (mie) dengan harga 18.000 dong (atau setara USD 1 saja!). Rasanya enak dan mengenyangkan.

Hanya ada satu kelemahan dari hotel 191 – 193 ini. Kamar termurahnya yang bertarif USD 10, terletak di lantai 5 dan tidak ada lift atau eskalator! Bagi yang kakinya lemah dan punya dana lebih, ambil yang USD 14 di lantai 3 atau yang USD 12 di lantai 4. By the way, lantai 1 dan 2 dipakai usaha kain dan konveksi.

Gak minat?! Masuk aja ke hotel di samping-sampingnya. Pilih sesuai selera dan kantong Anda. Okee?

Read Full Post »

Bagi Anda yang gak mau repot sesampai di Ho Chi Minh City (HCMC) alias Saigon di Vietnam, banyak pilihan taksi yang mangkal di Bandara Internasional Tan Son Naht. Ada taksi biasa, ada yang eksekutif. Ada yang bener, ada yang pakai argo kuda. Tapi secara umum, biaya yang kita keluarkan untuk taksi dari bandara ke area backpacker HCMC tidak melebihi USD 10.

Tapi bagi mereka yang pingin ngirit, sejak tahun 2008 lalu disediakan bus no 152. Bus ber-AC ini melayani trayek Bandara ke Ben Than Market dan melewati Pham Ngu Lao Street, De Tham Street dan Bui Vien Street yang menjadi jantung area backpacker.

Hanya saja, jangan bayangkan bus tersebut seperti bus Patas AC di Jakarta. Kendaraan umum di Saigon kebanyakan sudah cukup umur kalau gak tega bilang reyot. Sebanding-lah dengan ongkosnya. Jauh dekat per orang dikenai ongkos 3.000 VND (mata uang Vietnam atau kerap disebut dong). Kalau dikurskan ke Rupiah, sekitar Rp 1.700!

Lantas dimana naiknya? Setiba di HCMC dan melewati prosedur biasa (bea cukai dan Imigrasi), Anda keluar dari pintu bandara dan berjalan ke arah kanan menuju ke bandara untuk penerbangan domestik. Jika belum ada bus di situ, Anda tunggu saja di bandara domestic tersebut. Acuhkan saja calo-calo yang menawarkan taksi. Bahkan ada yang berani bilang kalau tidak ada bus dari bandara, ketika saya bilang lagi nunggu bus. Semprul..!

Jika bus datang – mungkin sekitar 15 menit, naik saja, bayar ongkos ke kondektur dan nikmati perjalanannya. Selamat mencoba.

Read Full Post »

TuaSiapa bilang kalau traveling itu adalah melulu untuk anak muda? Siapa bilang kalau orang tua nggak boleh traveling? Jangan bilang kalau orang tua itu sebaiknya tinggal di rumah saja dan momong cucu. Itu pikiran kuno!

Buktinya adalah Mr Chen. Orang tua ini saya kenal saat ber-backpacking ke Singapura. Dia berwisata nostalgia ke Singapura sendirian dari Amerika Serikat. Saat bertemu di ruang makan, beliau bercerita bahwa dirinya sudah pergi dari Singapura pada tahun 1949!

Waow, kalau gitu umur beliau sekarang berapa ya ? Iseng-iseng saya tanyakan, ternyata beliau sudah berumur  84 tahun! Umur segitu masih berani jalan sendiri dan yang lebih mencengangkan, beliau tinggal di Cozy Corner Guest House yang kamarnya terletak di lantai 2 dan 3. Nggak ada lift atau eskalator lho. Busyet.

Kalau sudah gitu, siapa berani bilang sudah ‘ketuaan ‘ untuk ber-backpacker ria?

Read Full Post »

NyeberangDari dulu kita selalu dicekoki dengan kabar bahwa Singapura adalah negara yang sangat teratur. Pemerintah memasuki semua aspek kehidupan masyarakatnya dan memberikan banyak peraturan.

Dengan keteraturan itu, negeri Singa tersebut mendaki anak-anak tangga menuju kemakmuran dan menjadi salah satu negara terkemuka di dunia dengan banyak pencapaian spektakuler.

Namun hal itu tidak dicapai semudah membalikkan tangan. Berbagai kiat dilakukan oleh Pemerintah yang dimotori PM Lee Kuan Yew. Salah satunya adalah dengan memberlakukan denda untuk mengubah perilaku penduduk negeri tetangga itu.

Sampai-sampai ada anekdot bahwa Singapore is a fine city. Ada dua arti, yaitu Singapura adalah kota yang bagus atau Singapura adalah kota ‘denda’. Hal itu akibat saking banyaknya denda yang diberlakukan Pemerintah. Mulai dari buang sampah sembarangan, merokok di tempat umum sampai larangan untuk makan atau minum di atas MRT.

Dari tindakan ‘represif’ Pemerintah itu, warga Singapura menjelma menjadi orang-orang yang disiplin dan negara mini tersebut menjadi macan Asia yang disegani. Namun ada hal-hal yang tidak terbayangkan waktu saya berkesempatan menginjakkan kaki di sana.

Pengalaman mengejutkan sudah terjadi saat pesawat AirAsia yang saya naiki dari Jakarta mendarat di Bandara Changi. Pesawat masih taxiing di landasan, tiba-tiba terdengar nada-nada musik bersahutan yang berasal dari handphone yang baru dinyalakan.

Saya jadi teringat dengan cerita Mbak Trinity di The Naked-Traveler soal handphone itu. Karena ingin tahu, leher saya julurkan panjang-panjang untuk mengetahui siapa sih yang nyalain HP itu. Ternyata bunyi-bunyi tersebut berasal dari sekelompok anak muda bertampang India. Saya pun menarik napas lega. Uuntuuung bukan orang Indon, hehehe.

Imej orang Singapura yang disiplin dan taat aturan semakin pudar seiring pengalaman jalan-jalan di Negeri Singa tersebut. Ada yang ngotot masuk ke gerbong MRT meski sudah ada tanda dahulukan orang yang turun, atau yang tetap duduk dan pura-pura tidur saat ada orang berumur yang berdiri di MRT. Selain itu, ada juga yang nyeberang jalan bukan pada tempatnya –termasuk saya, hehehe.

Namun semua pengalaman tersebut membuat orang Singapura menjadi tampak lebih manusiawi di mata saya. Bukannya robot-robot tanpa perasaan dan sekadar hanya mengikuti aturan yang telah digariskan.

Read Full Post »

Saat ini, virus penyakit Flu Babi dianggap sebagai virus flu yang paling mematikan. Bahkan penyakit ini tidak hanya berjangkit antara babi dan manusia. Sekarang penyakit Flu babi sudah bisa berjangkit dari manusia ke manusia lain. Karena itu, Flu Babi mendapat perhatian serius dari Pusat Kontrol Penyakit dan WHO (World Health Organization).

Penyakit Flu Babi ini merupakan kombinasi dari 4 (empat) strain virus flu, termasuk virus flu burung (Avian Flu), virus flu manusia dan dua virus lainnya. Varian terbaru influenza ini tidak hanya sangat menular tapi juga mematikan. Karena para peneliti belum yakin apakah obat Tamiflu atau Relenza bisa efektif menghadapi virus Flu Babi, maka kita yang suka dan demen backpacking harus ekstra hati-hati. Terutama saat melancong ke daerah yang tergolong pandemic Flu babi.

11 (sebelas) langkah yang patut dicermati.

Langkah 1. Tetap di rumah. Jika Anda menderita gejala flu, tetaplah di rumah. Jangan ‘berkeliaran’ ke mana-mana. Penyakit Flu Babi ini mempunyai tanda-tanda seperti laiknya penyakit flu dan demam biasa.

Langkah 2. Waspada Bersin atau Batuk. Jika Anda batuk atau bersin, sebaiknya diarahkan ke lipatan lengan, bukannya ke telapak tangan. Hal ini dimaksudkan agar virus tidak pindah ke setiap benda yang terpegang. Masker juga sangat membantu.

Langkah 3. Sering Cuci Tangan. Menjaga kebersihan tangan membantu menghindari penularan.

Langkah 4. Gunakan Cairan Antiseptik. Bawalah selalu cairan antiseptik saat bepergian. Membersihkan tangan dengan cairan antiseptik sebelum makan atau setelah bersalaman, bisa membantu mencegah penularan virus Flu Babi. Disarankan juga mengurangi kegiatan ‘cipika-cipiki’ (cium pipi kanan cium pipi kiri) saat bertemu dengan orang lain.

Langkah 5. Hati-hati di Fasilitas Publik. Pegangan pintu, tombol lift de el el, merupakan benda yang bisa menjadi sarana penyebaran virus ini.

Langkah 6. Hati-hati di Pesawat Terbang. Penyebaran virus Flu, termasuk Flu Babi, sangat mungkin terjadi di tempat dengan sirkulasi udara yang tertutup seperti di pesawat terbang. Anda harus lebih memperhatikan langkah-langkah di atas jika harus melakukan perjalanan lewat udara.

Langkah 7. Bersihkan Buah dan Sayur. Meski belum ada laporan penyebaran virus Flu Babi melalui buah atau sayur, tidak ada salahnya berhati-hati. Sedapat mungkin belilah buah atau sayur local dan bersihkan dengan air sebelum dimasak atau dikonsumsi.

Langkah 8. Hindari Kerumunan. Sedapat mungkin hindari terjebak di kerumunan karena meningkatkan risiko tertular flu. Ambil jarak minimal 1 meter dari orang lain. Jika tidak bisa, gunakan masker.

Langkah 9. Kebersihan Alat Makan. Hindari makan makanan yang tidak terjaga kebersihannya. Ambil perhatian terutama pada kebersihan wadah dan peralatan makan tersebut.

Langkah 10. Pengobatan. Sejauh ini, vaksin untuk Flu Babi masih belum bisa diandalkan secara penuh. Jika Anda terserang gejala penyakit Flu, mintalah Tamiflu atau Relenza dalam jangka waktu 36 jam sejak terjangkit. Kedua obat tersebut dapat menghambat perkembangan virus H1N1 atau virus Flu Babi.

Langkah 11. Kunjungi Dokter. Cari pertolongan dokter jika Anda merasakan gejala terserang Flu Babi, termasuk diantaranya adalah demam tinggi dan badan terasa sakit-sakit.

Read Full Post »