Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

Dokter Ikan

Daripada bete terus-terusan karena Taiwan (lihat tulisan Taiwan oh Taiwan…), saya putuskan ambil cuti dan pulang ke kampung halaman. Kebetulan Mama saya berulangtahun yang ke-80, sekalian memberikan acara ultah kejutan kepada beliau. Namun acara pesta keluarga tersebut belum cukup menghilangkan rasa bete. Apalagi ya…?

Food! Itu salah satu jawaban yang muncul di benak saya. Jadilah kami -saya dan isteri- berwisata kuliner di Malang. Tahu campur depan RS RKZ, Tahu telor alun-alun, bakso super Mitra, dan Siobak (masakan berbahan dasar B2) Gang Jangkrik yang terkenal, jadi sasaran kami. Memang tidak sehat & full kolesterol, tapi untuk menghilangkan bete ya apa boleh buat, hehehe.

Saat lewat di supermarket Mitra yang kini beralih jadi Carrefour, perhatian kami tertuju pada satu bak berisi ikan kecil-kecil. Namanya ikan garra rupa alias dokter ikan yang konon berasal dari Turki. Hal ini bukan sesuatu yang baru, tapi di Balikpapan harganya minta ampun. Rp 50rb untuk 15 menit terapi per orang. Sementara di Malang hanya Rp 25rb.

Karena murah, kami putuskan untuk mencobanya. Awalnya memang terasa aneh dan geli, namun lama kelamaan jadi ueenak tenan… Apalagi si Mbak penjaganya baik hati. Terapi yang seharusnya 15 menit jadi 30 menit. Melihat kaki saya dikerubuti dan dicocol-cocol (apa ya Bahasa Indonesia-nya?) ikan sepanjang 5 cm itu, segala rasa stress jadi menguap.

Entah ini sugesti atau beneran, tapi yang jelas sekembali ke Balikpapan, saya sudah siap tempur lagi. Terima kasih dokter ikan.

Advertisements

Read Full Post »

Taiwan oh Taiwan…

Entah kenapa, akhir-akhir ini jika mendengar kata Taiwan, saya jadi bete banget. Kalau sudah begitu, rusak deh hari saya, maunya uring-uringan melulu. Padahal sebelumnya bersemangat banget kalau bicara traveling ke Taiwan.

Semua ini berawal pada akhir Desember silam. Pada satu perbincangan dengan Bos, tercetus bahwa perusahaan dapat reward perjalanan ke luar negeri dari agen pemegang salah satu merek elektronik terkemuka di Indonesia. Dan saya ditawari untuk ‘mengambil’ peluang tersebut. Tujuannya adalah ke Taiwan di bulan Maret 2010 ini. Namanya tukang jalan, tentu saja peluang tersebut tidak saya sia-siakan.

Setelah kurang lebih dua bulan dalam kondisi di awang-awang, kenyataan pahit menerpa di bulan Februari. Impian yang saya bangun selama dua bulan tersebut hancur berkeping-keping, hiks.  Saya tidak jadi dikirim ke Taiwan. Tragisnya, pembatalan tersebut tidak diinformasikan langsung ke saya. Tapi pada suatu hari yang kelam, saya dititipi dua buah paspor –milik Bos dan suaminya– untuk diserahkan ke pihak Agen guna pembuatan visa.

Rasanya syok banget. Setelah ditawari, diimpikan selama dua bulan, tiba-tiba dibatalkan tanpa sepatah kata pun. Kalau terbawa perasaan, bisa-bisa quit deh. Saya coba nyabarin diri dengan anggapan, “Ah, itu bukan rejeki aku.” Namun rasa sakit di hati nggak hilang-hilang juga. makanya jadi bete banget tiap denger kata Taiwan.

Aapalagi setelah Bos telepon dan bilang kalau Taiwan itu jelek banget. “Jangan ke sana deh,” katanya. Tambah bete nih. Akhirnya, supaya nggak bete terus, saya mengeluarkan resolusi. “Suatu hari nanti, dengan uang sendiri saya akan ke Taiwan. Apa pun kata orang!” Aminnn.

Read Full Post »