Feeds:
Posts
Comments

Warga Negara Indonesia (WNI) saat ini memerlukan visa jika ingin mengunjungi Korea Selatan. Persyaratan yang dibutuhkan (catatan ini saya kutip dari Witatour) adalah :

  • Paspor yang masih berlaku 8 bulan.
  • Surat Sponsor dari tempat kerja (jika Anda karyawan) dalam Bahasa Inggris.
  • Surat Undangan jika datang dalam rangka bisnis.
  • Fotokopi SIUP (jika Anda pemilik perusahaan atau dalam rangka bisnis).
  • Bukti keuangan pribadi 3 bulan terakhir (atau keuangan kantor jika dalam rangka bisnis).
  • Referensi Bank asli plus Surat Keterangan Kerja dan slip gaji 6 bulan gaji bagi mereka yang belum pernah travel sebelumnya.
  • Fotokopi KTP, Akta Lahir, Surat Nikah, Kartu Keluarga.
  • 2 lembar foto 4×6 berwarna.
  • Isi dan tandatangan formulir.
  • Printout tiket.

Ribet ya..?! Itulah nasib pemegang paspor hijau hehehe. Mau buruan bikin ah….

Oso Oseyo, Korea

Selama ini, Korea Selatan tidak banyak dilirik oleh wisatawan asal Indonesia. Alasannya apalagi kalau bukan soal fulus hehehe… Seoul, ibukota salah satu negara macan Asia ini, termasuk kota termahal di Asia selain Tokyo dan Hong Kong. Padahal cukup banyak tempat-tempat yang layak dikunjungi di sana.

Mau budaya? Banyak istana atau kuil kuno. Mau shopping? Bisa bikin dompet jebol saking banyaknya mal. Bosan dengan mal di atas tanah, Seoul punya mal bawah tanah terbesar di Asia namanya Coex Mall. Mal ini bertempat di Gangnamgu, Seoul. Besarnya? 85.000 meter persegi alias 8,5 hektare! Bisa gempor, bok, kalau maksain keliling.

Menyadari prospek turisme Korea Selatan, budget airline Air Asia membuka destinasi barunya. Terhitung mulai hari ini, 4 Agustus 2010, kita bisa mulai membeli tiket KL – Incheon untuk penerbangan 1 November 2010 hingga 11 Agustus 2011. Harga tiketnya mulai dari Rp 263.000. Iseng saya coba buka untuk Juli 2011, tiket pp + airport tax & fee kena 255 MYR atawa Rp 677.083. Murah kan?

Bagi yang malas cari-cari hotel, Air Asia juga menawarkan paket di AirAsiaGo (www.airasiago.com). Untuk tiket pesawat pp plus hotel 4 malam harga mulai 599 MYR atau sekitar Rp 1,8 juta saja. Tertarik? Buruan pesan tiketnya. Penawaran ini hanya berlaku 5 hari saja mulai tanggal 4 hingga 8 Agustus ini. Jangan sampai ketinggalan kereta eh pesawat ya…

Selamat datang, Korea….. Oso Oseyo, korea….

Aku Cinta Indonesia

Saat ini Detikcom menyelenggarakan program Aku Cinta Indonesia (ACI) yang bertujuan menyeleksi 66 pendaftar dan nantinya akan dikumpulkan menjadi 33 tim beranggotakan masing-masing 2 orang. Pada waktu yang telah ditentukan, semua tim akan memperoleh reward berupa jalan-jalan gratis ke berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia. Benar-benar gratis lho. Transportasi, akomodasi bahkan sampai uang saku selama perjalanan juga ditanggung Detikcom.

Bukan hanya itu saja. Tulisan dan foto peserta setelah perjalanan berakhir akan dinilai. Pemenangnya bisa bawa pulang Rp 100 juta. Asyik, bok. Caranya? Cukup mendaftar lewat situs http://www.detik.com, ikuti petunjuk di situ dan nantinya mengikuti proses seleksi. Gampang banget….

Saya juga sudah mendaftar 2 hari lalu dan sudah dikonfirmasi via email. Tapi kok sampai sekarang data saya nggak muncul di website mereka. Masih nunggu giliran atau nggak masuk ya….? Nunggu aja dulu deh, moga-moga masuk dan kepilih. Lumayan kan bisa menikmati keindahan Indonesia tanpa keluar biaya. Maklum, soal transportasi adalah bagian yang paling memberatkan untuk eksplor Indonesia, khususnya bagi yang low budget seperti saya hehehe…

Nobar, Asyik tapi….

Perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan membawa berkah tersendiri bagi saya. Gara-gara perhelatan sepakbola terakbar sejagat ini saya beroleh kesempatan untuk menghadiri acara yang namanya nonton bareng alias nobar. Pengundang adalah FIF cabang Balikpapan dan dilaksanakan pas acara final antara Belanda dan Spanyol.

Walaupun tidak menjagokan keduanya (jagoan saya, Jerman, sudah keok di semifinal dan hanya jadi Juara 3, hiks.), namun saya berangkat dengan semangat ’45. Maklum pengalaman pertama. Setelah sampai di hotel tempat acara saya baru tahu bahwa acara nobar dilaksanakan di pub hotel tersebut. Asyik, ini juga kali pertama saya masuk ke pub (norak? Biarin!) dan yang lebih asyik lagi adalah gratis..tis…tis.

Namun eforia yang saya rasakan tidak berlangsung lama. Keasyikan mengalami hal-hal perdana dan juga nonton di layar gedhe segera terhapus tidak lama setelah saya masuk ke pub itu karena suasana di dalamnya. Mulai dari sakit telinga (karena musik dari in-house band yang hingar bingar), napas sesak (karena asap rokok yang pekat), hingga badan yang ber-‘teriak’ karena acara ini diselenggarakan jauh di luar jam tidur normal saya. Plus, pulang nggak bawa hadiah door prize yang disediakan panitia.

Pendek kata, lengkap sudah penderitaan yang saya alami. Selagi nonton bola yang diwarnai hujan kartu dari saku wasit, saya cuma berpikir: “Berapa lama nih waktu yang saya perlukan untuk mengeluarkan racun nikotin dkk yang ngendon di paru-paru selama beberapa jam ini?”

Karena lebih besar negatif yang saya rasakan, akhirnya dalam hati saya berikrar untuk tidak mau lagi diajak nobar kalau tempatnya di pub. By the way, saya tetap berterima kasih kepada pihak FIF yang sudah memberikan pengalaman ini. Lain kali undang saya lagi ya Pak Bowo, tapi jangan di pub hehehe…

Gawat nih! Saya mulai terserang gejala ‘penyakit’ keranjingan jalan-jalan. Bagaimana tidak? Planning sekeluarga ke Shenzhen (China), Hong Kong dan Macau saja belum terlaksana, saya sudah mencari planning baru. Ngomong-ngomong, trip keluarga kami baru akan dilaksanakan di bulan Agustus mendatang.

Planning terbaru saya adalah pergi ke Manila, Filipina, Februari 2011! Ya, anda tidak salah baca, memang untuk tahun depan. Bahkan tiket perjalanan pun sudah terbeli. MYR 0 dari Air Asia. Bosan dengan Kuala Lumpur sebagai connecting point, kami putuskan lewat  Kota Kinibalu. Jadi rutenya nanti adalah: Balikpapan – Tarakan – Tawau – Kota Kinibalu – Clark (Manila) – Kota Kinibalu – Tawau – Tarakan – Balikpapan.

Tiket yang sudah dibeli adalah: Tawau – Kota Kinibalu pp dan Kota Kinibalu – Clark pp. Plus menginap semalam di Tune Hotel Kota Kinibalu, total biaya yang kami keluarkan adalah MYR 183 alias Rp 549.000 (kurs MYR 1 = Rp 3.000) untuk berdua. Murah kan? Apalagi kami berdua sepakat untuk jalan-jalan kali ini ala backpacker.

Trus di Manila mau apa? Itu urusan nanti. Saya tinggal buka internet, browsing segala hal tentang Manila dan sekitarnya, baru menentukan itinerary. Beres kan? Gitu aja kok repot hehehe…

Dokter Ikan

Daripada bete terus-terusan karena Taiwan (lihat tulisan Taiwan oh Taiwan…), saya putuskan ambil cuti dan pulang ke kampung halaman. Kebetulan Mama saya berulangtahun yang ke-80, sekalian memberikan acara ultah kejutan kepada beliau. Namun acara pesta keluarga tersebut belum cukup menghilangkan rasa bete. Apalagi ya…?

Food! Itu salah satu jawaban yang muncul di benak saya. Jadilah kami -saya dan isteri- berwisata kuliner di Malang. Tahu campur depan RS RKZ, Tahu telor alun-alun, bakso super Mitra, dan Siobak (masakan berbahan dasar B2) Gang Jangkrik yang terkenal, jadi sasaran kami. Memang tidak sehat & full kolesterol, tapi untuk menghilangkan bete ya apa boleh buat, hehehe.

Saat lewat di supermarket Mitra yang kini beralih jadi Carrefour, perhatian kami tertuju pada satu bak berisi ikan kecil-kecil. Namanya ikan garra rupa alias dokter ikan yang konon berasal dari Turki. Hal ini bukan sesuatu yang baru, tapi di Balikpapan harganya minta ampun. Rp 50rb untuk 15 menit terapi per orang. Sementara di Malang hanya Rp 25rb.

Karena murah, kami putuskan untuk mencobanya. Awalnya memang terasa aneh dan geli, namun lama kelamaan jadi ueenak tenan… Apalagi si Mbak penjaganya baik hati. Terapi yang seharusnya 15 menit jadi 30 menit. Melihat kaki saya dikerubuti dan dicocol-cocol (apa ya Bahasa Indonesia-nya?) ikan sepanjang 5 cm itu, segala rasa stress jadi menguap.

Entah ini sugesti atau beneran, tapi yang jelas sekembali ke Balikpapan, saya sudah siap tempur lagi. Terima kasih dokter ikan.

Taiwan oh Taiwan…

Entah kenapa, akhir-akhir ini jika mendengar kata Taiwan, saya jadi bete banget. Kalau sudah begitu, rusak deh hari saya, maunya uring-uringan melulu. Padahal sebelumnya bersemangat banget kalau bicara traveling ke Taiwan.

Semua ini berawal pada akhir Desember silam. Pada satu perbincangan dengan Bos, tercetus bahwa perusahaan dapat reward perjalanan ke luar negeri dari agen pemegang salah satu merek elektronik terkemuka di Indonesia. Dan saya ditawari untuk ‘mengambil’ peluang tersebut. Tujuannya adalah ke Taiwan di bulan Maret 2010 ini. Namanya tukang jalan, tentu saja peluang tersebut tidak saya sia-siakan.

Setelah kurang lebih dua bulan dalam kondisi di awang-awang, kenyataan pahit menerpa di bulan Februari. Impian yang saya bangun selama dua bulan tersebut hancur berkeping-keping, hiks.  Saya tidak jadi dikirim ke Taiwan. Tragisnya, pembatalan tersebut tidak diinformasikan langsung ke saya. Tapi pada suatu hari yang kelam, saya dititipi dua buah paspor –milik Bos dan suaminya– untuk diserahkan ke pihak Agen guna pembuatan visa.

Rasanya syok banget. Setelah ditawari, diimpikan selama dua bulan, tiba-tiba dibatalkan tanpa sepatah kata pun. Kalau terbawa perasaan, bisa-bisa quit deh. Saya coba nyabarin diri dengan anggapan, “Ah, itu bukan rejeki aku.” Namun rasa sakit di hati nggak hilang-hilang juga. makanya jadi bete banget tiap denger kata Taiwan.

Aapalagi setelah Bos telepon dan bilang kalau Taiwan itu jelek banget. “Jangan ke sana deh,” katanya. Tambah bete nih. Akhirnya, supaya nggak bete terus, saya mengeluarkan resolusi. “Suatu hari nanti, dengan uang sendiri saya akan ke Taiwan. Apa pun kata orang!” Aminnn.